Makna Hadits Larangan Menghakimi dan Mencari Kesalahan Orang Lain

Makna Hadits Larangan Menghakimi dan Mencari Kesalahan Orang Lain

AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

Trading Autopilot menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang membantu Anda melakukan trading di market spot (Bukan Future) secara otomatis di Binance & Bitget dengan cepat, mudah, dan efisien.

Binance Bitget

Arti Lafadz "Wa La Tahassasu Wa La Tajassasu" dalam Hadits

Lafadz "Wa La Tahassasu Wa La Tajassasu" sering dijumpai dalam berbagai kajian keagamaan, baik itu dalam bentuk ceramah, seminar, atau pembelajaran agama Islam. Lafadz ini memiliki makna yang sangat penting dalam konteks ajaran Islam, terutama berkaitan dengan larangan untuk membuka aib orang lain dan mencari-cari kesalahan orang lain.

Sebagai umat Muslim, kita diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, termasuk dengan tidak mengintip atau mencari-cari kelemahan orang lain. Larangan ini sejalan dengan firman Allah dalam Alquran, yang memperingatkan agar kita tidak membuka aib, mengintai, atau mencari kesalahan orang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allah!” (HR. Al-Bukhari, no. 6064, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Dalam hadits ini, Nabi SAW melarang lima hal, yaitu:

  1. Tajassus
    Mencari-cari kesalahan dan aib dari seseorang lalu mengumpulkannya.

  2. Tahassus
    Mengorek-ngorek hal-hal yang tersembunyi dari seseorang.

  3. Hasad
    Iri dan dengki terhadap orang lain.

  4. Tadabaru
    Saling membelakangi atau tidak saling mendukung.

  5. Tabaghadu
    Saling membenci antar sesama.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dan menjadi pedoman penting dalam Islam untuk menjaga hubungan baik antar sesama Muslim.

Selain itu, dari Abu Barzah Al Aslami radhiyallahu’ anhu, Nabi SAW juga bersabda:

“Wahai orang-orang yang baru beriman di lisannya, dan iman belum masuk pada hatinya. Janganlah kalian melakukan ghibah kepada sesama muslim. Dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan sesama muslim. Karena siapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menyingkap kekurangan-kekurangannya. Dan siapa yang Allah singkap kekurangan-kekurangannya, ia akan merasa malu dan terhina kan walaupun ia berada di tengah rumahnya” (HR. Abu Daud no.4880, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dalam Alquran, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya orang- orang yang ingin agar perbuatan maksiat itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat” (QS. An Nur: 19).

Ayat ini memerintahkan kita untuk menutup aib kaum Muslimin dan tidak menyebarkannya. As Sa’di menjelaskan ayat ini sebagai bentuk rahmat Allah kepada para hamba-Nya yang beriman, serta perintah untuk saling mensucikan hati dan saling mencintai.

Ibnul Qayyim rahimahullah juga memberikan nasihat:

“Orang yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki dirinya dan tidak sempat mengurusi aib orang lain. Orang yang mengenal Rabb-nya, ia akan sibuk dengan (mencari ridha) Rabb-nya, tidak sempat mengikuti hawa nafsunya” (Al Fawaid, hal. 57).

Itulah penjelasan tentang arti lafadz "Wa La Tahassasu Wa La Tajassasu", yang merupakan hadits tentang larangan membuka aib dan mencari-cari kesalahan orang lain. Dengan memahami makna tersebut, kita dapat lebih bijak dalam berinteraksi dengan sesama dan menjaga harmoni dalam masyarakat.